Posted by: almalakawi | 29 Mei 2009

penjelasan hukum mengenai babi

Jawapan bagi soalan penghantar

 sila kelik disini untuk melihat soalan

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنْ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ

 فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, dan darah, dan daging babi, dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah ia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

 

Cuba lihat perkatan الْمَيْتَةَ apa maknanya?

Sudah tentu bagkai.

apa dia bangkai?

Bangkai didalam ayat ini ialah binatang yang tidak disembelih  atau disembelih tidak mengikut syarak.

Apakah sembelih yang mengikut syarak?

Sembelih mengikut syarak ialah memotong urat tempat lalu nafas dan urat tempat lalu makanan pada binatang yang boleh dimakan lagipula yang kuasa disembelih.

Dengan itu menyembelih binatang yang tidak boleh dimakan tidak dinamakan menyembelih mengikut syarak.

Apaka ada orang menyembelih babi mengikut syarak?

Adakah babi termasuk binatang yang halal dimakan?

Babi termasuk dalam binatang yang tidak boleh dimakan, maka pada nya ada dua sifat pertama haram kerana bangkai kedua ianya haram dengan lafaz وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ. Ertinya haram makan daging babi.

Dalam ayat menyebut daging, adakah yang lain dari daging termasok dalam kata haram sepertimana daging? seperti lemak kulit dan lain-lain.

Didalam ayat  ini Allah menyebut وَلَحْمَ الْخِنزِير ertinya dan haram daging babi maka yang lain haram juga kerana kaidah من إطلاق الجزإ وإرادة كل   ,mengitlak satu juzuk tapi yang dikehendaki sekelian yakni mengantong sesuatu pada sebahagian tetapi yang dikehendaki keseluruhan benda itu. Didalam ayat ini Allah gantongkan pengharaman pada daging dan yang lain masok (mengikut) dalam kehendak pengharaman.

Sekarag ini saya nak bawakan pendapat ulamak mazhab.

Mengikut mazhab Hanafi sekalian angota (juzuk) binatang yang tidak sampai darah seperti bulu gading dan lain adalah suci melainkan babi. Maka sekelian juzuk babi adalah najis mengikut pendapat Hanafi.

Mengikut mazhab Maliki dan Hambali sekelian juzuk binatang yang telah mati adalah najis maka ia adalah haram kerana firman Allah حَرَّمَ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةَ. Diharamkan keatas kamu bangkai. Mengikut dua mazhab ini Kulit bangkai tidak boleh jadi suci dengan disamak juzuk satu m. 157 الفقه الاسلمي Dr. Wahbah Zuhayli.

Mengikut mazhab Maliki tiap-tiap benda hidup suci sehinga anjin dan babi. Yang dikehendaki yang hidup bukan yang dah mati.

Mufakat sekelian ulamak bahawa daging babi najis sekalipun disembelih dan berkata mereka itu sekelian juzuk babi yang telah mati adalah najis.

Mengikut mazhab Maliki dan Hambali pada pendapat yang Mashur kulit bangkai najis samaada disamak atau tidak kerana kulit satu juzuk dari bangkai. Maka tidak jadi suci dengan samak kerana firman Allah  إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةَ mengikut mereka itu hadis yang mengharuskan kulit bangkai telah tidak boleh diguna hukum kerana telah di nasakh oleh hadis

 أني كنت رخصت لكم فى جلود الميتة فاذا جاءكم كتابي هذا فلا تنفعوا من الميتة بإهاب

 ولا عصب رواه أحمد وأبو داود وفى لفظ  أتنا كتاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

 قبل وفاته بشهر او بشهرين

Ertinya sesunguhnya aku telah memberi kemudahan kepada kamu pada kulit bangkai maka apabila sampai surat ini kepada kamu maka jangan kamu ambil menfaat dari kulit bangkai dengan disamak dan tida juga diambil menfat dengan nya dengan membalut telah meriwayat hadis ini Imam Ahmad dan Abu Daud dan ada terdapat pada riwayat yang lain dengan lafaz telah datang kepada kami surat Rasullah selepas wafatny lebih kurang sebulan atau dua bulan.

Maka hadis ini menasah hadis yang megharuskan mengambil menfaat dari kulit binatang.

Mazhab Zahiri tidak boleh diamal kerana tidak ada lagi ulamak yang besanad (bersambung) hinga kepada mereka itu.

Sanad adalah penting supaya menjaga kesinambungan ilmu supaya tidak ada unsure penipuan seperti mengubah pendapat mereka itu atau menambahnya sedangkan mereka tidak berpendapat begitu.

Tentang bab istihalah (berubah) yang dikehendaki disini adalah berubah dengan sendirinya seperti arak berubah jadi cuka atau darah dipusat kijang berubah jadi kasturi. Bukan berubah dengan usha kita dan bukan semua benda berubah masuk dalam bab ini.

Kalau semua benda yang berubah sifat masuk dalam bab ini maka racun yang berubah boleh dimakan.  والله اعلم

About these ads

Responses

  1. jawaban haram babi yang diambil dari web eramuslim.com:

    r. wb.
    Ustadz, ada teman saya non muslim menanyakan kenapa dalam Islam babi itu haram dimakan? Saya hanya bisa menjawab bahwa hal itu dilarang dan tersirat dalam al-Quran tapi dia kurang puas atas jawaban saya. Apakah ada kisah atau riwayat yang menjelaskan sehingga babi itu haram dimakan?
    Muhamad Rahmat
    rahmat1701 at eramuslim.com
    Jawaban
    Assalamu ‘laikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Perbedaan antara seorang mukmin dengan kafir dalam amal perbuatannya terutama didasarkan dari niatnya. Seorang yang beriman ketika mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, selalu mendasarkan tindakannya itu atas perintah dan larangan dari Allah SWT. Sebaliknya seorang kafir tidak pernah menjadikan perintah dan larangan Allah SWT sebagai landasan amalnya.
    Misalnya, ketika seorang muslim melakukan shalat dan ditanyakan kepadanya, mengapa dia shalat?, maka jawabannya adalah bahwa karena Allah SWT telah memerintahkannya untuk shalat. Tentang shalat itu ada manfaatnya buat kesehatan atau ketenangan jiwa dan sebagainya, tidaklah menjadi landasan dasar atas shalatnya. Dan di situlah peran niat yang sesungguhnya.
    Demikian juga ketika seorang mukmin meninggalkan khamar, zina, judi dan makan babi, niatnya semata-mata karena dia tunduk, taat dan patuh kepada larangan dari Allah SWT. Bukan sekedar mengejar hikmah dan tujuan yang bersifat duniawi. Tidak minum khamar bukan karena sekedar tidak mau mabuk, melainkan semata-mata karena Allah SWT mengharamkannya. Tidak mau zina bukan karena takut kena sipilis atau HIV, tetapi karena ada larangan dari Allah SWT. Demikian juga, tidak makan babi bukan karena takut ada cacing pita, melainkan karena Allah SWT sudah mengharamkannya.
    Adapun orang kafir tidak pernah mendasarkan tindakannya itu karena iman dan ketundukan kepada aturan yang datang dari Allah SWT. Paling jauh, landasannya sekedar logika dan penemuan ilmiyah. Padahal, sesuatu yang ilmiyah itu justru bersifat nisbi dan sangat mudah berubah.
    Kalau kita amati saat ini, banyak juga non muslim yang atas penemuan ilmiyahnya ikut-ikutan berpuasa sebagaimana seorang mukmin. Misalnya, karena kesimpulan ilmiyah membuktikan bahwa dengan mengosongkan perut, tubuh akan semakin sehat. Maka mereka pun berpuasa sebagaimana orang mukmin. Tetapi disisi Allah SWT, puasa non muslim itu sama sekali tidak ada nilainya.
    Mengapa?
    Karena puasanya buka lantaran taat kepada Allah SWT, melainkan semata-mata karena kesimpulannya sendiri.
    Penelitian ilmiyah dan beragam hikmah serta rahasia ibadah seperti ini buat seorang mukmin tidak menjadi dasar mengapa dia berpuasa. Sebab dasar ibadah hanyalah semata-mata karena perintah dari Allah, bukan karena ingin sehat atau sebab-sebab lainnya.
    Jadi kalau teman non muslim anda itu kurang puas dengan jawaban anda yang memang sudah benar itu, jangan kecewa dulu. Sebab memang hal itulah yang membedakan anda dengan teman anda. Anda adalah seorang muslim yang taat pada perintah dan larangan Allah SWT, sedangkan teman anda itu orang kafir yang ingkar -bukan hanya pada perintah dan larangan Allah- bahkan keberadaan dan kebenaran Allah SWT sebagai tuhan pun diingkarinya. Bagaimana mungkin seorang yang mengingkari eksistensi Allah bisa menerima dan memahami aturan-aturan dari-Nya?
    Kalau kita buat perumpamaan, seorang yang tidak mengakui eksistensi suatu negara, tidak akan mungkin mau mematuhi aturan-aturan yang ada di dalam negara itu. Seorang gembong pemberontak di Papua misalnya, tentu tidak mau menerima dan tunduk kepada peraturan pemerintah RI. Dan seorang yang mengingkari kebenaran ajaran Islam, tentu saja tidak bisa menerima perintah puasa dan selalu bilang tidak puas.
    Jawaban seperti itu bukan berarti kita menafikan adanya manfaat dan hikmah di balik setiap perintah dan larangan dari Allah SWT. Tentu manfaat dan hikmahnya banyak sekali kalau mau diungkap, bahkan selalu ada penemuan baru yang bersifat ilmiyah dan mampu membuktikan kebenaran agama Islam. Termasuk hikmah di balik pelarangan makan babi. Selain karena babi hidup lebih jorok dari hewan ternak lainnya, juga semua agama samawi baik yahudi, nasrani dan Islam, sepakat memposisikan babi sebagai lambang kebusukan dan kenajisan.
    Banyak orang mengungkapkan bahwa babi itu kalau terpaksa, mau makan kotorannya sendiri. Sementara hewan lainnya masih punya harga diri. Mendingan mati dari pada makan kotorannya sendiri.Juga banyak yang mengaitkan bahwa daging babi terlalu banyak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh manusia. Karena makannya tidak terkontrol, apa saja dimakannya, sehingga tubuhnya pun mengandung segala jenis penyakit.
    Dan masih banyak lagi rahasia dan hikmah di balik pelarangan makan babi yang bisa dapatkan. Namun semua itu sekedar menambah keyakinan yang sudah ada di dalam hati kita. Bukan sebagai landasan utama. Dan buat kita, apakah di balik larangan makan babi itu ada hikmah atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketaatan kita kepada Allah SWT yang telah melarang kita makan babi.
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 173)
    Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘laikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc.
    Assalamu ‘alaikum wr.wb
    Bapak Ust.Ahmad Sarwat,Lc yang dimuliakan Alloh,
    Saya mempunyai kesulitan untuk menjawab pertanyaan anak saya yang baru berumur 6 tahun, dia menanyakan kenapa orang Islam diharamkan memakan daging babi sedangkan non muslim tidak. Saya memberikan jawaban karena banyak mengandung penyakit dan binatang menjijikan tapi anak bertanya lagi, temennya banyak yang non muslim makan juga tidak sakit. Saya sudah tidak bisa jawab lagi. Mohon bantuannya pak Ustadz untuk jawaban terhadap pertanyaan anak saya. Terima kasih.
    Wassalam wr. wb.
    Wartanto
    tanto at eramuslim.com
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Kesempatan berdialog dengan anak anda seperti ini, justru anda bisa memanfaatkannya untuk menambah dan mengoreksi kesalahan dalam memahami agama kita dan agama lainnya.
    Selama ini kita seringkali beranggapan bahwa agama lain membolehkan pemeluknya memakan daging babi. Padahal yang benar tidak demikian. Yang benar adalah bahwa daging babi itu termasuk makanan yang diharamkan buat pemeluk agama lain itu. Yaitu agama samawi yang turun dari Allah SWT untuk umat terdahulu, Kristen dan Yahudi.
    Jadi sekalian saja dikoreksi pemahaman keliru anak anda, jelaskan bahwa babi itu bukan hanya haram buat umat Islam, tetapi juga haram buat umat Kristiani (Nasrani) dan juga Yahudi.
    وعلى الذين هادوا حرمنا ما قصصنا عليك من قبل وما ظلمنا هم ولكن كانوا انفسهم يظلمون
    Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. An-Nahl: 118)
    Kalaupun sekarang mereka memakan babi, ketahuilah bahwa mereka sedang melakukan maksiat dan kemungkaran kepada Allah SWT. Sebab kitab suci yang turun kepada mereka dahulu, secara tegas mengharamkan babi. Lalu para pendeta dan rahib mereka melakukan tindakan jahat yang dicatat dalam tinta sejarah, yaitu mengubah ayat-ayat Allah SWT itu dan digadaikan dengan harga yang murah sekali.
    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 79)
    Para rahib dan pendeta mereka telah mengubah ayat-ayat Taurat dan Injil yang turun dari langit dengan selera mereka sendiri. Apa yang telah dihalalkan Allah SWT, mereka haramkan. Sebaliknya, apa yang telah Allah SWT haramkan, justru mereka halalkan.
    Lalu hasil penyelewengan terhadap perintah dan ayat-ayat Allah SWT kemudian diikuti secara takqlid buta oleh para pemeluk agamanya. Meski pun para pendeta dan rahib itu jelas-jelas merusak kesucian kitab suci, mengubah isinya, memutar-balikkan hukumnya bahkan menghapusnya dan menggantinya sesuai dengan hawa nafsu mereka sendiri. Peristiwa ini tercatat dalam sejarah dan hingga hari ini masih bisa dibaca oleh umat manusia.
    Maka tindakan diam saja dari pemeluk agama itu, serta sikap mereka yang tidak mau menolak penyelewengan para pendeta itu, dikomentari oleh Nabi terakhir yang diutus kepada umat manusia, Rasulullah SAW, sebagai sikap “menyembah pendeta” dan menjadikan mereka sebagai “tuhan.” Jadi para pemeluk agama Kristen dan Yahudi dikatakan sebagai penyembah pendeta dan rahib mereka sendiri, meski tidak melakukan ruku’ dan sujud. Tetapi Allah SWT telah menyebutkan bahwa tindakan mereka itu tidak ada bedanya dengan menjadikan para rahib dan pendeta itu sebagai tuhan tandingan selain Allah SWT.
    اتخذوا أخبارهم ورهبانهم اربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا الا ليعبدوا الهاً واحدا لا اله الا هو سبحانه عما يشركون
    Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)
    Salah seorang shahabat nabi SAW yang dahulu pernah memeluk agama itu penasaran. Sebab sepanjang pengetahuannya, mereka memang tidak menyembah pendeta dan rahib. Maka Rasulullah SAW mengatakan bahwa sikap taqlid membabi buta atas penyelewengan para rahib adalah bentuk penuhanan kepada mereka. Ketika mereka mengubah isi Taurat dan Injil dengan hawa nafsu, itulah hakikat peribadatan kepada pemuka agama.

    Mengapa babi diharamkan oleh tiga agama?
    Kalau kita mau konsekuen dengan sistem aqidah Islam sekaligus mengembalikan cara beraqidah yang benar, inilah kesempatannya. Sampaikan sejelas-jelasnya kepada anak anda, bahwa haram tidaknya suatu makanan atau perbuatan, sama sekali tidak ada kaitannya dengan alasan logis yang dipahami manusia. Kalau pun ada hikmah, sifatnya hanya tambahan, sama sekali tidak berpengaruh kepada substansi hukumnya.
    Inilah kesempatan bagi anda untuk menanamkan aqidah yang benar kepada anak anda. Katakan padanya, bahwa babi itu haram karena Allah SWT telah menetapkan keharamannya. Bukan hanya semata-mata karena mengandung cacing pita, bakteri, virus atau alasan apapun. Tetapi karena kita percaya kepada Allah SWT, juga karena kita percaya keaslian kitab suci, juga karena kita percaya kepada Rasulullah SAW, bahwa haramnya itu karena Allah SWT mengharamkannya.
    حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما اهلبه لغير الله
    Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…(QS. Al-Maidah: 3)
    Kalau alasan kita tidak makan babi hanya semata-mata alasan ilmiyah dan kesehatan, maka babi itu sudah halal hukumnya. Sebab di zaman sekarang ini sudah banyak ditemukan teknis memasak babi yang bisa mematikan semua jenis virus, bakteri dan cacing pita.
    Demikian pula secara pisik, tidak ada bedanya antara ayam yang disembelih dengan mengucapkan basmalah dengan yang disembelih dengan menyebut nama tuhan selain Allah. Secara fisik, keduanya bersih, suci, tidak kotor, bahkan tidak ada racun apapun. Tetapi di pandang dari sudut syariat, hukum keduanya berbeda. Yang satu halal karena disembelih dengan basmalah, sedangkan yang satunya haram, karena disembelih dengan menyebut nama tuhan selain Allah.
    Kalau agama yang kita jalani ini harus selalu dikembalikan kepada alasan-alasan yang bersifat kebendaan, ilmiyah atau aspek fisik semata, maka bubarlah agama ini. Padahal landasan agama itu adalah iman, yang berarti percaya kepada Allah SWT. Kalau Allah bilang merah, maka kita ikut bilang merah. Sebaliknya, kalau Allah bilang hitam, maka kita pun bilang hitam. Kita tidak akan memilih merah atau hitam, kecuali karena Allah yang menetapkan.
    Mengapa kita harus bersikap demikian? Jawabnya adalah karena Allah SWT itu tuhan. Sebagai tuhan, tentu saja semua apapun yang ditetapkannnya harus kita patuhi tanpa reserve, tanpa ditunda, tanpa ditanya-tanyai sebabnya dan tanpa dimintai alasannya.
    إنما كان قول المؤمنين إذا دعوا إلى الله ورسوله ليحكم بينهم
    ان يقولوا سمعنا واطعنا وأولئك هم المفلحون
    Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. An-Nuur: 51)
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc
    Ustadz anda itu memang tidak salah sepenuhnya, hanya saja sayangnya beliau hanya menyajikan pendapat sepihak saja, sehingga buat sebagian orang yang belum pernah mengenal hal seperti itu, menjadi sebuah tanda tanya besar.
    Memang para ulama sepakat untuk mengharamkan daging babi dalam kaitannya untuk dimakan, berdasarkan ayat Al-Quran Al-Karim. Dan pengharaman daging ini juga termasuk bagian lainnya dari tubuh babi. Maka tulang, kulit, jeroan, otot, minyak dan gajihnya pun termasuk haram dimakan.
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Baqarah: 173)
    Demikian juga tidak ada masalah dengan kenajisan bagian tubuh babi bila sudah mati. Karena babi yang sudah mati terhitung sebagai bangkai (maytah). Di mana secara umum, hewan apapun meski bukan babi, badannya menjadi najis begitu mati tanpa proses penyembelihan syar’i. Dan umumnya babi itu tidak pernah disembelih secara syar’i. Buat apa seorang muslim menyembelih babi dengan penyembelihan syar’i?
    Maka bagian tubuh babi yang sudah mati sudah pasti najis, bahkan mazhab As-syafi’i menggolongkannya sebagai najis berat. Tidak bisa disucikan kecuali dengan mencucinya 7 kali salah satunya dengan tanah.
    Perbedaan pendapat
    Semua itu dalam kerangka bahwa babi itu dimakan atau disentuh setelah matinya, misalnya digunakan untuk membuat benda-benda tertentu. Namun kalau bukan untuk dimakan, tetapi menyentuh bagian tubuh selama babi itu masih hidup, memang ada sedikit perbedaan pendapat meski minoritas.
    Misalnya Imam Malik rahimahullah, beliau menyatakan bahwa kenajisan tubuh babi tidak ditemukan dalilnya secara langsung. Yang ada hanya dalil yang menyatakan bahwa babi itu haram dimakan. Sehingga beliau menetapkan bahwa bila bukan untuk dimakan, daging babi itu tidak najis untuk sekedar disentuh atau dipegang.
    Namun pendapat yang demikian adalah pendapat yang menyendiri. Sebab mayoritas (jumhur) ulama sepakat bahwa babi itu bukan hanya haram dimakan, tetapi juga semua tubuhnya najis ketika masih hidup, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Munzir.
    Kesimpulan:
    Berarti yang disampaikan oleh ustadz tersebut memang ada di dalam wacana perbedaan pendapat para fuqaha’ di masa lalu. Sayangnya, beliau hanya menampilkan satu pendapat saja dengan meninggalkan pendapat jumhur ulama. Itu pun pendapat yang boleh dibilang agak menyendiri.
    Idealnya, ketika menerangkan suatu masalah, jangan lupa agar beberapa pendapat lain yang berkembang turut disampaikan, sebagai bentuk penyebaran wawasan syariah Islamiyah.
    Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc
    Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.
    Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”
    Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.
    Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”
    Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.
    Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.
    Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”
    Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya. Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah.
    Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya “Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman”, halaman 130-131: “Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?”
    Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihâdât fi at Tafsîr al Qur’an al Karîm, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi: “Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini. Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di antaranya:
    1. Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus
    2. Keguguran nanah, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.
    3. Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.
    4. Penyakit pengelupasan kulit.
    5. Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia.
    Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi:
    1. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya.
    2. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.
    3. Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.
    4. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan.
    5. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.
    6. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
    7. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia –Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas penduduknya sekular– menyatakan: daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.
    Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatarbelakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.
    ________________________________________
    Dari buku: Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari’at dan Sains Modern
    Penulis: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid
    Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Cet : I/1997
    Penerbit: Gema Insani Press
    Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740
    Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
    Fax. (021) 7984388

  2. salam.memang itulah apa yang saya pelajari ‘time’ sekolah rendah dulu.. Dan seperti yang kita tahu, melakukan perkara yang ternyata dilarang dalam Islam seperti kes babi di atas adalah antara amalan golongan jahiliyyah. Tetapi ustaz, apa yang bermain-main dalam fikiran saya ini adalah apakah kesan-kesannya melakukan amalan jahiliyyah seperti menggunakan produk babi, minum arak serta main judi, mempercayai perkara tahyul, dan seumpamanya di mana setiap larangan-Nya berlandaskan sebab yang tertentu dan munasabah. Boleh tuan ustaz terangkan kesan-kesan tersebut?

  3. As Salam , ustaz . Saya ingin bertanya Allah s.w.t menyukai hambanya menahan diri daripada melakukan dosa atau tidak melakukan terus atau melakukan dosa kemudian bertaubat. Bolehkah kita berusaha menahan diri dari melakukan dosa besar kerana hawa nafsu membuak-buak menyuruh kita melakukan kejahatan. Kalau seseorang itu berniat mahu melakukan dosa kemudian dia mengatakan mahu bertaubat setelah melakukan dosa tersebut. Harap ustaz memberi komen.

    • Allah menyukai hamba yang berusha menghindarkan diri dari melakukan dosa, dan membenci hambanya yang melakukan dosa.
      Bertaubat ada syarat setengah syarat taubat berazam tidak mahu melakukan dosa setelah taubat itu.
      Dosa bsar atau kecil boleh di jauhi dan ramai yang boleh menjauhinya.
      Apabila seorang hamba itu melakukan dosa llah memperwajibkan dia bertaubat dan bertaubat itu tidak boleh dibuat main-main.

  4. Assalamualaikum saya nak bertanya sedikit mengenai kulit babi ini. Saya ada beli kasut daripada kawan yg menjual secara online.tetapi bila saya dapat mengetahui kasut Itu Di saluti kulit babi.saya telah pun memberi tahunya.tetapi dia seolah olah tak dapat menerimanya.kerana dia telah menjual kasut tu pada orang ramai Dan dia juga mengatakan supplier dia dah memastikan Itu bukan kulit babi kerana kulit babi mahal harganya.sedangkn setahu saya kulit babi tu la kulit yang paling murah.saya dapat tau kerana kakak saya pernah bekerja di butik mewah dan kakak saya punya majikan sekali gus telah menerangkan sebelum dia buat jualan pada pelanggan terutama orang2 Islam. Saya harap masalah ni dapat di selesaikan.terima kasih.assalamualaikum

    • Sila ripot kepada persatuan penguna


Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 112 other followers

%d bloggers like this: